Politik Devide et Impera

Kalau berbicara tentang budaya bangsa indonesia, ada banyak pendapat yang menyesalkan historikal bangsa ini yang dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun. Pendapat itu membandingkan kondisi Bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa sekitar kita yang dijajah oleh Inggris, seperti Malaysia dan Singapura.

Belanda menjajah Bangsa ini, dengan cara yang sangat tidak etis, yaitu membiarkan bangsa ini bodoh dan malas, sementara kekayaan buminya dikeruk habis. Sedangkan Inggris sebagai negara agresor, selain mengeruk kekayaan alam, juga memberikan kesempatan pendidikan kepada bangsa yang dijajahnya. Dan satu lagi yang menjadi kelebihan dari bangsa yang dijajah oleh inggris adalah, bahasa. Bahasa inggris menjadi bahasa pergaulan internasional sedangkan bahasa belanda tidak. Dampak dari hal ini adalah bangsa yang dijajah oleh inggris mendapatkan warisan bahasa inggris sebagai bahasa nasionalnya, selain bahasa yang berasal dari negara jajahan.

Belanda selalu dijadikan kambing hitam atas rusaknya budaya bangsa Indonesia. Padahal generasi yang ada sekarang, sebagian besar tidaklah merasakan penjajahan yang dilakukan oleh belanda. Ambil contoh, tokoh-tokoh negara yang sekarang berumur 60 sampai 70 tahun, berarti merupakan kelahiran antara tahun 1938 sampai 1948, dimana masa penjajahan belanda yang dirasakannya hanyalah selama kurang dari 3 tahun saja. Jadi tidak ada alasan untuk tetap membebankan kesalahan tersebut kepada belanda.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa, walaupun generasi sekarang ini tidak merasakan penjajahan belanda, tetapi pola hidup dan tingkah laku yang diturunkan dari para tetua, tetap menghantui Sikap Hidup dari bangsa ini. Terserahlah apapun pendapat dan argumennya.

Belanda terkenal dengan strategi devide et imperanya, yaitu politik adu domba dan pecah belah. Ternyata politik tersebut tidak hanya memiliki sisi negatif, bahkan saat inipun sering dilakukan oleh para praktisi, baik praktisi politik, maupun didalam keseharian kita, baik dipekerjaan maupun di organisasi. Politik pecah belah yang ditujukan untuk menghancurkan individu, sedangkan Adu domba ditujukan untuk melihat dengan jelas siapa kawan- dan siapa lawan.

Coba deh berkaca pada diri sendiri, apakah kita pernah dan sering melakukan politik adu domba dan pecah belah ini, dan merasakan keuntungan atas posisi yang kita miliki dan pertahankan sampai saat ini.

Pecahnya PKB, apakah memang pecah sendiri ? atau karena adanya politik pecah belah ini ?

Pecahnya Golongan karya menjadi beberapa Partai, apakah hasil politik pecah belah, atau ambisi ?

Pecahnya PDIP dan PPP apakah  juga disebabkan oleh hal yang sama ?

Who Knows ?

Jadi sebenarnya kita sebagai bangsa tidak perlu mencari kambing hitam atas, kegagalan atau ketidak berhasilan bangsa ini untuk lebih mendunia lagi. Sebaiknya kita bersatu, menyingsingkan baju, mencari musuh bersama untuk dilawan, yaitu kemiskinan dan kemelaratan serta ketidak adilan. Kalau itu dapat dilakukan, niscaya bangsa ini akan menjadi nomor satu didunia. Itu jugalah yang memperkuat perjuangan Saddam Husein dalam melawan Amerika, yaitu menciptakan musuh bersama bagi bangsanya, sehingga semuanya bersatu.

Dalam pilkada di DKI, pemilihan Gubernur DKI, Adang  yang dicalonkan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengalami kekalahan juga disebabkan karena adanya gerakan untuk memposisikan PKS menjadi musuh bersama, (mungkin). Entah apa alasannya kita tidak terinformasikan dengan baik, maklum namanya juga politik tingkat tinggi.

Jadi siapa neh yang harus kita jadikan musuh bersama ? gimana kalau amerika aja, mumpung mereka dalam kondisi krisis ekonomi, berani ?

Ya ndak berani dong…. ?

Leave a Reply