Fenomena PKB, Trik orde baru lumpuhkan lawan

Muktamar kedua Partai Persatuan Pembangunan ke II di Hotel Horison, ancol pada agustus 1989, menetapkan formatur yang terdiri dari 7 orang. HJ. Naro yang pada waktu merupakan Ketua Umum Partai yang berlambang bintang itu, masuk kedalam formatur tetapi dengan kekuatan 6 melawan 1. Naro ditinggalkan oleh kadernya sendiri, baik yang berasal dari NU maupun dari MI yang merupakan organisasi sang ketua umum.

 

Hasil formatur menetapkan Ismail Hasan Metareum menjadi Ketua Umum menggantikan HJ. Naro. Kekalahan itu sebenarnya sudah diprediksi 1 tahun sebelum pelaksanaan Muktamar tersebut. Naro memiliki dosa politik terhadap penguasa orde baru, dengan mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada pemilihan presiden dan wakil presiden oleh MPR tahun 1988. hal itu dianggap merusak tatanan yang sudah baku, pada saat itu, dimana wakil presiden akan ditentukan oleh Soeharto dengan cara menginformasikan hal itu kepada panitia 7 dari Golongan Karya, organisasi politik yang tidak mau disebut Partai politik dan mencengkram kekuasaan politik pada saat itu.

 

Cara yang dilakukan oleh penguasa orde baru adalah dengan menggerogoti lawan politik dengan cara adu domba didalam internal partai lawannya. Hal yang sama juga dilakukan pada Partai Demokrasi Indonesia, yang juga merupakan partai politik hiasan demokrasi Indonesia waktu itu.

 

Teknik adu domba ini, mungkin dipelajari dari warisan pemerintahan penjajah belanda yang disebut devide et impera. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto dengan 3 Jalurnya, ABRI, Birokrasi dan Golongan Karya atau jalur ABG, menerapkan teknik adu domba ini untuk mengkerdilkan PPP dan PDI.

 

Entah sama atau tidak, fenomena itu terjadi kembali pada masa reformasi ini, yaitu di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).  Kubu Muhaimin melakukan mbalelo terhadap kepemimpinan Gus Dur. Cakar-cakaran antara Gus Dus dan Cak Imin berlangsung seru, sampai pada saat gong pertanda dimulainya pemilu 2009. perebutan amplop nomor urut di KPU, sampai akhirnya KPU hanya mau menerima caleg dari kubu cak imin, memperlihatkan bahwa pemerintah dalam hal ini KPU, berpihak kepada kubu Cak Imin dengan 1001 argumen yang  dibuat, agar keputusan tersebut dapat dipahami oleh 2 pihak yang bertikai.

 

Apa alasannya menjegal Gus Dur ?

 

Walaupun mengalami hambatan fisik, Gus Dur memiliki kharisma yang kuat untuk menjadi Calon Presiden pada Pemilu 2009. Dengan dukungan PKB yang solid, dikhawatirkan sang kiai bisa berhasil menjadi presiden. Daya pikir Kiai ini luar biasa, walaupun kadang-kadang agak nyeleneh dalam berkomentar. Ide-ide yang disampaikannya seringkali keluar dari tatanan yang ada dan melompat jauh kedepan, sebelum pihak lain memikirkannya.

 

Alasan lainnya ?

Kekuatiran kelompok lanjutan orde baru, baik yang masih bernaung di Partai  Golongan Karya, atau kader partai itu yang sudah pindah dan membentuk Partai lain.

 

Kekuatiran Apa ?

 

Kekuatiran, kalau Gus Dur jadi presiden, keputusan pertama yang akan dilakukan Gus Dur adalah membubarkan Partai Golongan Karya.  Hal ini pernah disampaikan sang Kiai pada saat menjabat sebagai Presiden yang dipilih dalam sidang umum MPR tahun 1999. Gus Dur yang saat itu berseteru dengan DPR tentang kasus Buloggate yang diangkat oleh Golongan Karya akhirnya mengeluarkan Maklumat yang isinya membubarkan DPR/MPR, dan membubarkan Partai Golongan Karya.

 

Mengapa Membubarkan Partai Golongan Karya ?

 

Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa Kiai yang satu ini, walaupun mengalami kendala dalam penglihatan kedua matanya, tetapi ternyata Mata Hatinya lebih cemerlang dibandingkan dengan seluruh mata elit politik yang ada. Beliau mengetahui bahwa, Partai Golongan karya tetap akan berusaha menjaga eksistensi Partainya dengan melakukan segala cara.  Partai ini memiliki kader-kader yang piawai dalam bersilat lidah dan bermanuver melalui loby-loby politik untuk memenangkan kepentingannya. Yaitu usaha untuk mengamankan dosa-dosa baik secara ekonomi, dengan mengamankan korupsi selama 32 tahun, maupun dosa politik yang telah menipu rakyat Indonesia selama bertahun-tahun, dengan pesta demokrasi yang palsu.

 

Benar atau tidaknya bahwa Cak Imin mbalelo disebabkan politik adu domba yang dilakukan pemerintah SBY-JK dapat dilihat pada saat pencalonan presiden. Kalau PKB Cak Imin mendukung SBY JK sebagai Presiden dan Wakil presiden pada pemilihan presiden pada PEMILU 2009 nanti, kita dapat menyimpulkan sendiri. Semoga hal itu tidak benar. Amin..

 

Anda tahu yang dimaksud. Jadi walaupun anda adalah kader PKB yang setia, anda harus tentukan setia pada siapa, kepada Gus Dur, Cak Imin, Ideologi Partai atau Hati Nurani anda sendiri. Tentukan pilihan anda, untuk pemilu legislatif, anda sebagai kader dan simpatisan PKB bisa saja tetap memilih PKB dan Caleg-caleg PKB untuk duduk di DPR dan DPRD. Tetapi untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, kalau secara organisasi Cak Imin mendukung salah satu kandidat, sebaiknya anda pikirkan lagi dan timbang-timbang lebih panjang.

 

Jangan beri kesempatan pada praktek-praktek adu domba ala orde baru berkembang lagi, jangan pilih partai dan capres yang merupakan representasi orde baru. Karena orde baru mensengsarakan kita bertahun-tahun dengan hutang luar negeri yang besar, dan sekarang datang kembali bak seorang pahlawan.

 

Anda tentukan sendiri pendapat anda, ini hanya salah satu perpektif yang perlu dipertimbangkan.

Merdeka, Merdeka, Merdeka, Sekali Merdeka, tetap belum Merdeka, karena penjajah dari negeri sendiri melakukan politik penjajah juga.

2 Responses

  1. Dan baca PLANET ROBOT belum? Bagian “Demokrasi Tersandera?” Buku itu saling melengkapi dengan buku AEB&EOM.

    Dengan paham kedua buku itu, kau akan tahu betapa masalah dunia yang selama ini terasa rumit dan ruwet sebenarnya begitu sederhana.

  2. Terima kasih atas informasinya, saya akan coba mencari buku tersebut untuk menambah wawasan.

    salam sukses

Leave a Reply