Setiap bangsa memiliki ciri khas budaya, yaitu cara dalam berperilaku, bertindak tanduk dan merespon kejadian yang ada, dan tentu saja kebiasaan yang berlaku. Dalam salah satu buku Strategi Sumber daya manusia yang ditulis oleh seorang yang berkebangsaan Amerika, yang disoroti adalah budaya bangsa Amerika dalam berperilaku didunia kerja dibandingkan dengan budaya bangsa Jepang. Penulis tersebut menggambarkan dua kutub ekstrim antara budaya jepang dan budaya Amerika yang menurut penulis tersebut kedua bangsa ini berhasil mencapai kemajuan.
Bangsa Jepang digambarkan memiliki budaya yang memiliki kepatuhan, kesetiaan kepada atasan serta memiliki ketekunan dalam bekerja. Tingkat rasa malu yang tinggi terhadap kegagalan serta sportifitas dalam menerima kekalahan juga dijadikan sebagai label bagi budaya bangsa matahari terbit ini. Budaya yang dimiliki oleh Bangsa jepang ini tentu saja didasari oleh budaya yang terbentuk beratus-ratus tahun. Jiwa Samurai, harakiri dan penghormatan kepada kekuasan Kaisar yang memimpin bangsa ini tentu saja membentuk sikap yang penghormatan yang tinggi dan kepatuhan pada pimpinan. Sikap budaya bangsa jepang ini telah menghantarkan bangsa ini menjadi salah satu negara besar walaupun luas negara dan jumlah penduduk serta sumber daya alam yang dimiliki sangat terbatas. Dalam keterbatas tersebut, jepang bisa menjadi salah satu bangsa di Asia yang memiliki kekuatan perekonomian yang sangat kuat. Bekerja bagi pekerja di jepang merupakan pekerjaan untuk mengabdi seumur hidup pada suatu perusahaan. Sistem karir dibudaya jepang lebih berdasarkan kepada kesenioritasan.
Berbeda dengan Bangsa Jepang, Amerika digambarkan memiliki sikap liberal, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam budaya kerja. Penghargaan bagi setiap individu menyebabkan setiap karyawan di perusahaan yang memiliki budaya amerika memiliki kebebasan untuk mengekpresikan dan berkreatifitas semaksimal mungkin. Dalam budaya amerika ini, persaingan antar individu dibuka selebar-lebarnya. Setiap karyawan mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan diri. Siapa yang memiliki kemampuan dan kemauan yang lebih dibandingkan rata-rata, dipastikan akan mendapatkan kesempatan lebih. Seorang bawahan bisa saja memberikan pendapat yang bertentangan dengan atasan dan dihargai, asalkan yang bersangkutan dapat mempertanggung jawabkan kemampuaannya.
Lain dengan budaya kedua bangsa tersebut, malaysia sebagai negara serumpun yang memiliki latar belakang budaya melayu yang tidak jauh berbeda dengan bangsa Indonesia ternyata bisa berhasil bertahan dalam kondisi parahnya ekonomi dunia saat ini. Kondisi perekonomian Malaysia bisa disebutkan lebih baik dibandingkan Indonesia. Kalau sebelumnya banyak mahasiswa atau lembaga-lembaga pemerintahan di Malaysia yang belajar ke Indonesia, sekarang malah kondisinya berbeda, pekerja indonesia dengan tingkat pendidikan rendah di eksport ke Malaysia dengan gelar sebagai pahlawan sebagai peraup devisa untuk negara Indonesia. Penjajahan Inggris dijadikan alasan untuk membenarkan bahwa bangsa malaysia lebih baik dari mental bangsa kita. Inggris dianggap sebagai negara penjajah yang memberikan kesempatan untuk maju bagi bangsa yang dijajahnya
Indonesia dengan latar belakang sebagai negara jajahan belanda selama 350 tahun, Dan dinyatakan sebagai bangsa yang dijajah, di keruk hasil buminya secara habis-habisan dengan tidak memberikan kesempatan bagi penduduk negeri jajahannya untuk mendapatkan kesempatan untuk maju. Kondisi ini dilanjutkan dengan penjajahan jepang yang hanya 3,5 tahun tetapi sangat memberikan penderitaan dan luka yang dalam.
Era Soekarno yang diharapkan bisa membangkitkan jati diri bangsa dengan mengusung pancasila sebagai sikap dan budaya bangsa ternyata harus patah ditengah jalan meninggalkan kondisi budaya bangsa yang belum memiliki yang jelas. Soeharto dengan sistem pendekataan keamanannya kembali menempatkan rakyat indonesia dalam keterjajahan oleh bangsa sendiri. Doktrin-doktrin dan cap sebagai anggota partai terlarang saat itu dijadikan sebagai dalih untuk menekan rakyat yang memiliki pendapat berbeda dengan pemerintah. Walaupun kondisi ekonomi berkembang cukup pesat, tetapi kekuasaan Soeharto selama 32 tahun menyuburkan sikap koruptif, nepotisme, dan pertemanan. Budaya kerja yang tumbuh adalah sikap yes man, jilat sana sini, dan tentu saja dengan tag line “ Atas petunjuk ….” dijadikan sebagai gambaran budaya bangsa ini.
Reformasi yang telah bergulir selama 10 tahun, ternyata belum dapat membenahi kondisi keterpurukan ekonomi dan pola pandang bangsa ini, walaupun ada ketetapan MPR yang memerintahkan untuk mengusut tuntas korupsi Soeharto, beserta kroni-kroninya. Pengusutan berakhir dengan dipanggilnya sang Pemimpin ini oleh Sang Kuasa. Semua Kroni-kroni Soeharto mendadak memproklamirkan dirinya tidak termasuk kedalam kroninya Soeharto, walaupun semua kita tahu siapa saja yang termasuk kedalam kelompok ini.
Budaya koruptif masih merajalela, walaupun KPK sudah banyak mengungkapkan kasus, dan menangkap tangan para pelakunya, tetapi tentu saja masih berada diluar lingkaran kekuasaaan. Pada dasarnya penguasa saat ini masih merupakan perpanjangan kelompok penguasa Orde Baru. Walaupun telah menjelma dengan paradigma baru atau dalam partai-partai baru, tetapi kroni-kroni Soeharto masih berjuang untuk tetap melanggengkan kekuasaannya. Tentu saja hal ini ditujukan untuk melindungi kelompok-kelompoknya, baik dalam segi politis, penindakkan hukum dan tentu saja kekuasaan dibidang ekonomi. Untuk menyatakan bahwa KPK melakukan tebang pilih, mungkin saja tidak tepat, karena jumlah personilnya dibandingkan Gunung Es Koruptif tidaklah sepadan. Tetapi penindakan yang dilakukan yang hanya diluar kelompok penguasa, tentu saja tidak dapat diacuhkan sebagai suatu fakta yang ada. Hal ini mungkin disebabkan bahwa para koruptor yang termasuk kedalam kroni ini memiliki kemampuan antisipasi yang luar biasa, sehingga dapat menghindar, atau memang sudah ada kesepakatan diantara mereka, bahwa KPK hanya akan mengejar korupsi yang dilakukan pada masa ini dan tidak membongkar korupsi yang sudah lewat, dengan syarat mereka memberikan kesempatan kepada para pemain (Koruptor) baru untuk melakukan tindakan korupsi, toh harta yang sudah dikumpulkan selama puluhan tahun masih bisa menghidupi sampai tujuh turunan.
Sikap korupsi yang terjadi sebenarnya tidak hanya dalam bentuk uang, kalau kita mau melihat pada diri kita sendiri, mungkin kita termasuk kedalam kelompok karyawan atau pekerja yang setiap hari melakukan tindakan koruptif kecil-kecilan. Datang telat kekantor, titip absen, memanfaatkan telepon kantor atau fasilitas lainnya untuk kepentingan pribadi, fasilitas internet, email ataupun kendaraan operasinal.
Budaya yang dimiliki bangsa kita mungkin bisa dikategorikan sebagai gabungan antara sikap paternalistik dan kepatuhan semu, dengan sikap liberal dan pesaingan semu yang merupakan persaingan yang tidak sehat.
Bagaimana Menurut anda ?
Filed under: Indonesiaku


